Vica

Ocehan seorang yang ingin belajar seumur hidup

Kurikulum 2013 – perubahan pendidikan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik?

2 Comments

Membaca suatu tulisan berjudul “Petisi untuk Wapres” di kompas.com (4 Maret 2013) mengenai penolakan sang penulis terhadap kurikulum 2013, mengelitik saya untuk juga mencurahkan pikiran saya mengenai Kurikulum yang menurut Dokumen Kurikulum 2013, akan mulai diimplementasi pada Juli 2013 untuk kelas I, IV, VII, dan X. Kemudian secara bertahap pada tingkatan2 lainnya.

Exif_JPEG_422

Apa yang berbeda di Kurikulum 2013?

Di sekolah tempat saya mengajar dulu, kami menggunakan IB (International Baccalaureate) framework dalam penyusunan kurikum dan proses belajar-mengajar. Saya lihat pokok framework ini diadaptasi oleh tim penyusun Kurikulum 2013 dengan hasil akhir yang berbeda. Misalnya di dalam framework IB untuk Sekolah Dasar atau disebut Primary Years Program (PYP) digunakan kurikulum tematik (transdisciplinary theme), dimana melalui sebuah topik besar, anak didik belajar berbagai ilmu terkait, baik itu matematika, IPA, IPS maupun seni juga pendidikan agama. Fungsinya agar anak didik mengeksplorasi berbagai pelajaran itu sebagai suatu kesatuan dalam relevansi dengan hidupnya. Dengan kata lain ilmu itu tidak terkotak-kotak dan bukan sesuatu yang berada “di luar” hidupnya. Bentuk adaptasi Kurikulum 2013: “mengintegrasikan konten mata pelajaran IPA dan IPS di kelas I, II, dan III ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. [Baru] Di kelas IV, V, dan VI nama mata pelajaran IPA dan IPS tercantum dan memiliki Kompetensi Dasar masing–masing. Untuk proses pembelajaran Kompetensi Dasar IPA dan IPS, sebagaimana Kompetensi Dasar mata pelajaran lain, diintegrasikan ke dalam berbagai tema. Oleh karena itu, proses pembelajaran semua Kompetensi Dasar dari semua mata pelajaran terintegrasi dalam berbagai tema.” (Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 SD/MI halaman 4). Terlihat mirip, bukan?

Sementara pada tingkat sekolah menengah setara SMP atau IB MYP (Middle Years Program), terdapat Interdisciplinary unit learning, dimana apabila ada keterkaitan erat antara 2 atau lebih mata pelajaran maka bisa diajarkan sebagai satu unit dengan tujuan seperti di atas. Namun yang perlu ditekankan keterkaitan itu bukan dipaksakan atau naturally linked.

Kalau Bapak Acep Iwan Saidi, pada tulisan tadi, membahas Kurikulum 2013 dari sisi kompetensi yang ada pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, maka saya memilih untuk melihat kurikulum Sains, khususnya Kimia. Perbedaan yang signifikan dari segi Kurikulum Sains adalah penggunaan ajaran agama dan budi pekerti (dalam IB framework disebut sebagai attitudes) sebagai dasar, atau yang disebut sebagai Kompetensi Inti (KI) dari satuan pembelajaran atau yang disebut Kompetensi Dasar (KD). Namun isi kurikulum kimia sendiri yang dirinci dalam Kompetensi Dasar tidak mengalami perubahan yang berarti dibandingkan kurikulum sebelumnya.

Perubahan yang lain adalah kita tidak menemukan lagi istilah kelas 1, 2 atau 3 SMP atau SMU kelas 1-3, karena Kurikulum 2013 menggunakan kelas I-XII. Entah apa alasannya. Tapi karena di sekolah tempat saya mengajar dulu juga seperti ini, tidak ada masalah yang berarti dengan hal ini.

Kejanggalan-kejanggalan dalam Kurikulum 2013

Berikut adalah contoh kompetensi inti (KI) dari kurikulum Kimia kelas XI: Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya. Ada 2 Kompetensi Dasar (KD) yang diturunkan dari KI ini. Salah satunya adalah sebagai berikut, yaitu:  Menyadari keteraturan dan kompleksitas konfigurasi elektron  dalam atom sebagai wujud kebesaran Tuhan YME. Terus terang reaksi pertama saya membaca bagian ini adalah tertawa. Apalagi membaca KI berikutnya: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Dengan salah satu KD: Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam bekerja sama memenemukan dan memahami keteraturan atom, unsur dan molekul (Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 SMA/MA Lampiran 3D halaman 132).

Dari contoh di atas, menurut saya, masalah utama Kurikulum ini adalah adanya keterkaitan yang dipaksakan antara KI dan KD tadi. Bagaimana orbital elektron dipahami dalam wacana kebesaran TYME? Juga apa kaitan antara struktur atom dengan berperilaku jujur, santun, peduli dan tanggung jawab? Apabila ada pengecualian2 dari hukum ilmu alam, misalnya jumlah elektron yang berikatan dalam ikatan kimia apakah itu berarti kita boleh berbohong, tidak santun atau tidak bertaggung jawab?

Masalah yang kedua adalah menghubungkan konsep sains dengan pendidikan agama tidak semudah dirumuskan dalam kurikulum 2013 ini. Bagaimanapun hukum2 sains terlahir dari pembuktian secara eksperimental/ empiris sementara agama tidak selalu didasarkan pada hal ini.

Masalah ketiga adalah topik pembelajaran tidak dikelompokkan dalam satu urutan yang logis dan terdapat beberapa repetition. Contohnya pembahasan mengenai elektron dan struktur atom di kelas X diulangi lagi di kelas XI. Kemudian pembahasan mengenai interaksi antara atom dibahas di kelas XI sementara ikatan antara atom di kelas X. Padahal pembahasan ini terkait erat, haruslah dibahas berturutan. Contoh lainnya pembahasan mengenai hidrokarbon terdapat di kelas X, XI dan XII yang menurut saya sangat tidak efisien. Walaupun pokok pembahasan berbeda namun diperlukan waktu untuk mengulang apa yg telah dipelajari pada tingkatan sebelumnya.

Ideologi dan Landasan Teori

Secara mendasar, menurut saya, landasan idiologi Kurikulum 2013 ini tidak jelas. Apabila saya bandingkan dengan ideologi dari kurikulum yang pernah saya baca (Eisner, 1992; Ho, 2002), Kurikulum 2013 ini tidak memiliki basis yang jelas, apakah itu menggunakan dasar efisiensi sosial dan ekonomi, progressivism, utilitarianism, social reconstructionism, semata-mata akademik atau cultural pluralism?

Menilik isi kurikulum 2013, sangat terasa muatan positivistik (objectivism epistemology) di dalamnya. Sangat disayangkan karena pendidikan di dunia modern saat ini menekankan pada pembelajaran konstruktivistik (contructionism epistemology), dimana anak didik mengekplorasi suatu konsep berdasarkan pengetahuan awal (prior-knowledge) yang telah dimilikinya. Sebagai salah seorang teacher trainer pada beberapa workshop baik oleh pemerintah maupun independen mengenai Pembelajaran berpusat pada siswa, saya merasa sangat kecewa.

Hal yang lain yang saya pikir akan menjadi masalah adalah penilaian dan evaluasi. Bagaimana menilai : Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya? Apa indikator yang akan digunakan? Juga seperti apa bentuk evaluasi yang akan dilakukan, apakah cukup komprehensif dan tidak asal bapak senang (ABS).

Pelatihan Kurikulum baru ini direncanakan berlangsung selama 52 jam pada bulan April mendatang. Dalam waktu yang sangat singkat ini, saya mempertanyakan bagaimana para guru dapat, tidak hanya menguasai kurikulum ini, namun juga mempersiapkan pelajaran, bahan-bahan mengajar (dalam IPA termasuk untuk eksperimen) dan tool untuk penilaian serta evaluasi.

Walaupun sudah diminta untuk menunda pemberlakuan Kurikulum ini baik oleh sejumlah anggota DPR RI maupun oleh pemerhati pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh tetap bersikukuh untuk menjalankannya pada bulan Juli 2013 ini (Kompas.com 13 Januari 2013). Saya juga tidak habis pikir mengapa beliau sangat keukeuh. Saya sempat berpikir apakah karena tahun depan ada pergantian Presiden diikuti oleh pergantian kabinet jadi beliau ingin melaksakan proyek akhirnya atau menunjukkan hasil kerjanya selama ini.

Tadinya saya berharap bahwa Kurikulum yang baru ini akan membawa perbaikan dalam tingkat pendidikan dasar dan menengah. Paling tidak dari segi Sains, kurikulum ini dapat menciptakan anak-anak yang lebih kreatif, mempunyai rasa ingin tahu dan mampu bersaing secara global, yang dapat dibuktikan melalui tes PISA (Program for International Student Assessment) dan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study). Indonesia berada pada peringkat 40 dari 45 negara yang mengikuti TIMSS 2011. Sementara itu dalam PISA pada tahun 2009, Indonesia berada pada peringkat 57 di antara 65 negara.

Sebagai seorang pendidik, saya merasa pesimis terhadap kurikulum baru ini. Walaupun sangat menyukai tantangan dan perubahan, menurut saya, perubahan besar seperti ini perlu perencanaan yang matang dan mendengar opini dari berbagai pihak sebelum dieksekusi.  Akan sangat disayangkan apabila beribu-ribu anak sekolah kita dikorbankan karena perencanaan yang tidak matang ini. Walaupun demikian, saya mencoba untuk berpikiran terbuka apabila kurikulum ini jadi dilaksanakan. Pikiran itu adalah: paling nanti pas terbentuk kabinet baru, menteri Pendidikan dan kebudayaan yang baru bakal menghapus kurikulum ini. Heh?! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Kurikulum 2013 – perubahan pendidikan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik?

  1. And now, well seems we wait until after the elections next year (and start all over again!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s